bookmark bookmark
Sygma On June - 4 - 2010

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS Al-Ahzab (33) ayat 40)

Apa kesan pertama kita jika mendengar nama Hitler? Atau Musolini? Atau Che Guevara?. Pasti mereka adalah sosok idiolog yang hidupnya digunakan total untuk memperjuangkan keyakinannya. Atau tokoh heroik yang berani melawan pemerintahan tiranik yang menindas.

Bandingkan kesan pertama kita ketika mendengar nama Nabi Ayub As, Zakariya AS, Isa AS, Adam AS atau Muhammad SAW. Pasti mereka adalah sosok suci sakral, yang saking sakralnya sampai tidak tersentuh oleh sifat sifat manusia biasa. Pasti tokoh peradaban yang penuh kasih sayang dan selalu mengalah. Pasti manusia sempurna yang tiada banding. Pasti pengajar yang ‘hanya’ mengajar nilai-nilai keluhuran budi (moral) tanpa ada upaya / gerakan perjuangan dan peperangan untuk menegakan keadilan Islam dalam struktur lembaga politik. Pasti “Pemimpin spiritual” yang tidak terkait dengan urusan politik Negara.

Apa kesan pertama kita jika selesai membaca sejarah Hitler? -Terlepas dari setuju atau tidak dengan langkah dan idiologi Hitler-, pasti yang muncul adalah keinginan untuk meniru semangat (spirit) perjuangannya .

Apa Kesan pertama kita jika selesai membaca sejarah N. Muhammad?. Kagum dan pengagungan, yang melahirkan rasa sulit atau bahkan mustahil meniru beliau yang super suci nan sempurna.

Mari periksa sejarah Muhammad SAW, seringkali kental dengan cerita tentang auto biografinya, siapa ibunya, siapa bapaknya, siapa datuknya, siapa pamannya, tanggal berapa ia lahir, meninggal dan menikah, siapa yang pernah menyusuinya, siapa saja istri dan anaknya, bagaimana performa fisik dan bajunya, bagaimana jalannya dan apa makanan kesukaannya?.

Kemudian pengagungannya kerap dibumbui oleh cerita palsu berbau mistik dan mitos dan perilaku yang diluar jangkauan kemanusiaannya.

Alhasil; Jika Hitler menjadi tokoh ‘manusia’ heroik, pejuang panutan. Tetapi Muhammad SAW menjadi tokoh ‘manusia setengah dewa’ yang sempurna, yang karakternya diatas manusia biasa, dan sulit / mustahil untuk ditiru.

Al-Qur’an adalah Kitab Allah bagi manusia, didalamnya ada kisah kisah para Nabi yang dipaparkan oleh Allah SWT dengan pemaparan terbaik (Ahsanul Qosos) [1], dan cerita yang benar (nabaul Haq)[2] .

Al-Qur’an memaparkan sejarah para Rasul Allah SWT secara manusiawi, karena para Rasul adalah manusia biasa [3]. Pernyataan Qur’an sendiri yang menyatakan bahwa para Rasul adalah manusia biasa . Sehingga perlu pula Qur’an membuka beberapa contoh kekeliruan para (pejabat) Rasul untuk jadi pelajaran bahwa mereka adalah manusia biasa yang mungkin terkena salah.

Nabi Adam AS bersalah dengan memakan buah dari pohon terlarang di “jannah” [4], Nabi Yunus AS bersalah karena meninggalkan ummat dan wilayah juangnya [5] , Nabi Muhammad SAW ditegur karena menyepelekan Ummi maktum[6] atau mengharamkan madu dan lain-lain [7] .

Menceritakan kisah para Nabi / Rasul dengan dibumbui cerita mistik dan mitos hanya akan menghilangkan substansi dari sejarah sebagai kisah terbaik yang wajib ditiru (uswatun Hasanah) [8] dan bisa ditiru karena mereka adalah manusia biasa .

Al-Qur’an juga menceritakan para Rasul tidak bertele-tele; menerangkan tanggal-tanggal lahir, nikah dan matinya para rasul (tarikh) atau silsilah panjang mereka hingga beberapa keturunan diatasnya. Allah SWT menegaskan bahwa para Rasul itu diutus untuk: mengajak manusia mengabdi kepada Allah SWT (Tauhid) dan menentang, menjauhi serta meruntuhkan kekuasaan Thaguth [9] . Serta berjuang hingga titik darah penghabisan guna menegakan Din (Kekuasaan / pemerintahan) Allah dan mensirnakan musuh-musuhnya yang menghalangi tegaknya Din Islam[10] . Sehingga sejarah para Rasulpun diuraikan dengan fakta-fakta perjuangan menegakan Kalimah Tauhid serta semangat heroik dalam penegakannya, terutama dalam menghadapi pemerintahan Thaguth yang menghadangnya [11].

Sesungguhnya auto biografi seperti siapa ibu bapaknya, tanggal lahir, nikah dan matinya, siapa istri dan anaknya adalah data-data yang tidak bisa ditiru. Sementara Para Rasul itu secara substansial wajib ditiru (uswah hasanah).

Al-Qur’an juga menceritakan dengan seru bagaimana kiprah destruktif para penguasa thaguth dalam menghadang gerakan perjuangan para Rasul seperti Raja Fir’aun, Namrudz atau Abu Lahab serta para pendukungnya. Sekaligus juga memuat bagaimana usaha keras para Rasul dalam memerangi para penguasa thaguth tersebut. Sampai-sampai mereka memenjarakan, mengusir bahkan membunuh para Nabi / Rasul[12] .

Bagaimana Raja Mesir “Fir’aun” merencanakan pembunuhan kepada Musa AS [13] hingga Musa AS dikejarkejar untuk dibunuh sampai ke Laut Merah oleh Fir’aun dan angkatan perang-nya [14] . Bagaimana Raja Namrudz melemparkan Ibrahim AS kedalam lautan Api [15]. Bagaimana Penguasa Hijaz “Abu Lahab” mengancam Muhammad SAW [16] . Bagaimana Nabi Nuh AS dikecam (diteror) habis-habisan oleh penguasa tiranik [17], Bagaimana Pemerintahan yahudi begitu ambisius mencari Isa AS untuk disalib [18] , Bagaimana Daud AS dengan heroik melawan dan sekaligus menumbangkan kekuasaan raksasa kerajaan Zaluth (Goliat) [19] dan lain-lain .

Ini semua menunjukan bahwa “sejarah Para Rasul” dalam Al-Qur’an bukanlah sejarah biografi pribadi beliau tetapi sejarah perjuangan menegakan BALDAH THOYYIBAH WA ROBBUN GHAFUR dan menghancurkan kekuasaan Thaguth.

Tentu saja, tulisan sederhana ini tidak bermaksud menepis pentingnya biografi tokoh besar, tetapi bermaksud mengembalikan sejarah para Rasul dalam upayanya menegakan Kekuasaan Allah di muka bumi.

Ditulis oleh : GUN’S

saung reyot, 15 april 2010 M

———————–
note:
[1] QS Yusuf (12) ayat 3: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran Ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum Mengetahui.”
[2] QS Al-Kahfi (18) ayat 13: “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk”
[3] QS Ibrahim (14) ayat 11: “Rasul-rasul mereka Berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. dan Hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.”
[4] Lihat QS Al-A’raf (7) ayat 19-25
[5] Lihat QS Al-Anbiya (21) ayat 87
[6] Lihat QS Abasa (80) ayat 1-4
[7] Lihat QS At-tahrim (66) ayat 1-2
[8] Lihat QS Al-Ahzab (33) ayat 21, QS Al-Mumtahanah (60) ayat 4
[9] Lihat QS Al-Anbiya (21) ayat 25 dan QS An-Nakhl (16) ayat 36
[10] Lihat QS Asy-syura (42) ayat 12-15, QS Al-baqarah (2) ayat 193
[11] Lihat QS Al-Anfal (8) ayat 30
[12] Lihat QS Al-anfal (8) ayat 30, QS Al-baqarah (2) ayat 61
[13] Lihat QS Al-Mukmin (40) ayat 26-29
[14] Lihat QS Al-Isra (17) ayat 103
[15] Lihat QS Al-anbiya (21) ayat 68-70
[16] Lihat QS Al-Lahab (111) ayat 1-4
[17 ] Lihat QS Al-Qamar (54) ayat 9-10
[18 ] Lihat QS An-Nisa (4) ayat 155-162
[19] Lihat QS Al-Baqarah (2) ayat 243-252
SERI SEJARAH…. NO 01..

Reblog this post [with Zemanta]
Categories: Artikel

13 Responses

  1. Aki Aki says:

    Kupasannya oke.
    ditunggu seri berikutnya.

  2. anita says:

    ijin copy ya… jzkl..

  3. jasa seo says:

    Salam mampir aja ah …

  4. Tas Wanita says:

    izin tuk forward. tq

  5. Tas Wanita says:

    Salam mampir aja ah …

  6. mp3 terbaru says:

    makasih infonya … sukses terus…

  7. Thanks artikelnya, keep posting and salam kenal… 🙂

  8. mksih bos atas share ilmunya

  9. Matur nuwun atas tip2-nya, salam sukses selalu

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam