bookmark bookmark
Sygma On July - 17 - 2012

Puasa Ramadhan adalah kewajiban yang sakral dan ibadah Islam yang bersifat syi’ar yang besar, juga salah satu rukun Islam praktis yang lima, yang menjadi pilar agama ini.

Wajibnya puasa ini telah dikukuhkan dalam Al-Quran, Sunah, dan ijmak.

Dalam Al-Quran, Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang beriman, telah diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa, (yaitu) beberapa hari yang tertentu. (Al-Baqarah: 183-184)

Kemudian firman Allah selanjutnya, “(Yaitu) bulan Ramdhan yang padanya (mulai) diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan petunjuk itu dan pembeda. Maka barangsiapa di antara kalian melihat bulan itu, hendaklah ia berpuasa. (Al-Baqarah: 185)

Dalam hadits yang diriwayatkan Umar bin Khatab r.a., yang dikenal dengan hadits Jibril, dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, engkau menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu.

Semakna dengan hadits ini adalah hadits riwayat Ibnu Umar yang sangat dikenal dan mutafaq alaih, dihafal oleh seluruh kaum Muslimin, yang awam maupun terpelajar: Buniya al-islam ‘ala khams (Islam didirikan di atas lima hal) …. Di antara yang lima itu adalah shaumu ramadhan (puasa Ramadhan).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi Saw. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang apabila aku mengerjakannya, masuk surga.” Rasul Saw. menjawab, “Sembahlah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu … dan kerjakan puasa Ramadhan.”

Hadits Thalhah bin Ubaidillah menceritakan tentang seorang sahabat laki-laki dari Nejed yang datang kepada Nabi Saw. dan bertanya tentang Islam. Nabi Saw. menyebutkan ihwal shalat yang lima, kemudian puasa Ramadhan.

Ia bertanya, “Adakah yang lain?” Nabi menjawab, “Tidak, kecuali sukarela.”

Hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak jumlahnya, bahkan Kutub As-Sitah dan lainnya telah memuatnya, hingga hadits-hadits itu menjadi mutawatir secara makna.

Kaum Muslimin dari semua mazhab dan golongan sejak periode Nabi Saw. hingga hari ini telah sepakat atas wajibnya puasa Ramadhan. Yakni fardhu’ain bagi tiap-tiap Muslim yang mukalaf tanpa kecuali, baik pada masa lalu maupun sekarang.

Karenanya, puasa Ramadhan termasuk kewajiban yang bersifat tawatur yaqini, yang diketahui sebagai bagian integral dari agama, yang kewajibannya mengikat orang awam maupun khusus tanpa memerlukan kajian dan dalil lagi.

Dari sinilah, para ulama sepakat mengganggap kafir dan murtad semua orang yang mengingkari wajibnya puasa Ramadhan, meragukan, atau merendahkan tingat wajibnya. Karena semua itu tidak bisa dianggap selain mendustakan Allah dan Rasul-Nya, dan berarti keluar secara terang-terangan dari Islam.

Tidak ada toleransi tentang ini selain bagi mereka yang baru masuk Islam sehingga sementara belum siap memahami pokok-pokok kewajibannya. Ia diberi kesempatan terlebih dahulu untuk mendalami agama, mempelajari apa-apa yang belum diketahui. Inilah kewajibannya. Begitu pun wajib bagi semua kaum Muslimin, khususnya yang masih awam.

Sumber: Fiqih Sunah, Dr. Yusuf Qardhawi.

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam