bookmark bookmark
Sygma On June - 21 - 2013

SPCDalam berinteaksi dengan anak, secara tidak sadar, sebagian besar ungkapan yang kita keluarkan kepada anak adalah kalimat instruksi berupa tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh anak. Misalnya:

“Kerjakan PRnya!”

“Nih, makanannya. Cepat makan!”

“Cepetan dong mandinya! Nanti telat, nih!”

“Udah..berhenti main gamenya! Cepetan tidur sana! Udah malam.”

Atau, bisa juga ungkapan yang kita lontarkan kepada anak adalah kalimat penolakan tanpa penjelasan. Misalnya, saat anak kita meminta untuk dibelikan tas baru disaat tas lamanya masih layak pakai, dengan tegas kita menjawab “Tidak!”, tanpa ada penjelesan.

Kondisi-kondisi seperti itu terjadi dalam interaksi sehari-hari kita dengan anak. Sebagai orang tua, kita sering memberikan instruksi kepada anak tanpa ada penjelasan, sehingga anak seolah dipaksa untuk menerima apapun yang diperintahkan orang tuanya, tanpa memiliki kesempatan untuk tahu alasannya.

Anda mungkin bertanya, haruskah, seorang anak selalu mengetahui mengapa ia harus mengerjakan suatu pekerjaan atau tugas yang diembankan kepadanya? Dalam situasi mendesak, kita dibolehkan menuntut anak-anak untuk melaksanakan perintah tanpa harus memberi penjelasan terlebih dahulu pentingnya perintah-perintah itu dilakukan oleh mereka. Akan tetapi, dalam banyak kesempatan, kita harus menjelaskan alasan-alasan itu dengan tenang, bijak, dan penuh penghargaan jika kita menginginkan mereka menuruti perintah kita. Dalam hal ini, kita bisa mengambil pelajaran dari contoh berikut.

Sabila adalah gadis cilik berusia sembilan tahun. Ia ingin menggambar dengan tinta hitam sebagai tugas ekstrakurikuler. Rencananya, gambar itu akan ia tempel pada majalah dinding di kelasnya. Dengan karyanya itu, ia berharap akan mendapatkan nilai.

Sabila kemudian menemui ayahnya untuk meminta tinta hitam itu. Pada saat itu, ayahnya bisa saja menolak permintaan tersebut dengan alasan tinta akan tumpah dan mengotori karpet kamar saat tinta digunakan. Tetapi, sang ayah berpikir, jika ia melakukan hal itu, pasti anaknya akan memberontak dan marah. Ia pun memilih untuk menjelaskan alasannya tidak mengizinkan penggunaan tinta itu.

 “Bukankah lebih baik jika kamu menggunakan pensil warna? Ayah khawatir, kalau tumpah, tinta ini akan mengotori karpet dan susah dibersihkan,” kata sang ayah.

“Tapi, aku ingin garis-garis yang indah dan jelas. Tinta hitam bisa sangat membantuku mewujudkannya. Aku mohon, ayah bisa memberikan tinta itu,” Sabila menjawab.

“Mungkin juga kamu malah merusak gambar yang kamu buat, kalau kamu tidak hati-hati menggunakannya. Kalau tinta itu tumpah, kamu terpaksa harus membuatnya lagi dari awal, kan?” jelas si ayah.

“Aku akan sangat hati-hati. Tinta itu tidak akan tumpah,” gadis itu bersikeras.

Akhirnya, si ayah setuju. “Terserah kamu, kalau begitu. Silakan ambil tinta dan pulpennya dari meja ayah. Ayah akan duduk untuk mengawasi kamu. Kamu buat saja gambar itu di atas kertas draft. Hati-hati, ya!”

Tiba-tiba saja Sabila menarik kembali putusannya. Ia khawatir malah akan membuang banyak waktu saat melakukan percobaan menggambar. Ia juga berpikir,  mungkin saja ia merusak gambar yang ia buat sehingga harus membuatnya lagi dari awal. Akhirnya, Sabila berkata kepada ayahnya, “Kupikir, ayah benar saat mengatakan bahwa aku mungkin akan mengotori karpet. Aku lebih baik menggunakan pensil warna yang kubeli pekan lalu.”

Dalam kasus tersebut, dengan cara yang lembut dan masuk akal, si ayah berhasil meyakinkan putrinya untuk tidak menggambar menggunakan tinta, tanpa putrinya merasa tertekan.

Berdasark kasus tersebut, upaya menghormati anak, dengan cara meyakinkannya dan tidak melarangnya secara menyeramkan, adalah hal yang sangat penting untuk kita pegang teguh. Hal ini penting untuk meyakinkan anak dan tidak membuatnya ketakutan sehingga responsif terhadap kita.

Ada satu hal lagi yang tidak boleh luput dari perhatian kita. Memang, kita harus membuat anak dapat menerima dan memahami segala perintah kita. Akan tetapi, itu bukan berarti kita harus diam jika si anak menolak perintah atau larangan. Jika kita membiarkannya, hal itu sama dengan membiarkannya mengikuti nafsu dan itu akan sangat merusak. Meski demikian, lakukanlah dengan cara elegan yang membuat anak merasa tidak terpaksa dan menumbuhkan rasa hormat kepada kita sebagai orang tuanya.

 

(Sumber:  Muhammad Rasyid Dimas. 20 Langkah Salah dalam Mendidik Anak. Arkanleema. 2008)

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam