bookmark bookmark
Sygma On July - 31 - 2013

MuhammadTeladanku.com – Sungguh, sangat berbeda mempunyai waktu bersama anak dengan meluangkan waktu untuk mereka. Apa yang kita lakukan dengan waktu kita bersama anak?

Pertama, menjalin kedekatan dengan mereka. Bercermin pada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, kita melihat betapa hangat hubungan Rasulullah dengan anak-anak; dengan putrinya, dengan cucujnya, maupun dengan anak-anak kecil lainnya.

Rasulullah pernah bermain kuda-kudaan dengan cucunya, memanjangkan sujudnya tatkala Al Husain menaiki punggungnya, menyapa akbrab anak-anak kecil yang sedang asyik bermain, bercanda dengan mereka atau menghamparkan surbannya ketika Fatimah Az-Zahra datang. Padahal ketika itu Fatimah sudah dewasa, bahkan sudah berputra.

Kedua, membangun kredibilitas kita sebagai orangtua. Karena setiap hari anak-anak melihat kita, membangun kredibilitas sebagai orangtua justru jauh lebih sulit dibandingkan membangun kredibilitas sebagai guru di sekolah. Sama sulitnya dengan pengasuh asrama yang setiap hari mendampingi anak. Sedikit saja melakukan kesalahan, anak-anak segera merekam di alam benaknya.

Salah satu cara membangun kredibilitas adalah dengan berkata yang benar. Kuatnya kredibilitas akan membangkitkan kepercayaan. Sebaliknya, jika runtuh, bisa menjadikan anak kehilangan rasa hormat terhadap rang tua. Khusus berkenaan dengan rasa hormat ini, sebagaimana kepercayaan dan kredibilitas, orangtua perlu saling membantu. Ibu mengajari anak untuk hormat dan patuh kepada ayah, sebaliknya ayah membimbing anak untuk sayang dan taat pada ibu. Ayah berkewajiban untuk menanamkan kepada anak agar menghormati ibu lebih daripada ayah.

Hal yang sama juga berlaku antara orangtua dan guru. Orangtua mengajarkan kepada anak agar hormat dan mendengarkan apa kata guru. Sementara, guru bertugas membangun kredibilitas orangtua sekaligus menghormati dan menaatinya.

Ketiga, membangun keyakinan, arah hidup dan cita-cita ideologis anak. Tidak penting kelak mereka akan menjadi apa, asalkan semuanya dalam kerangka mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan proses pembentukan visi hidup ini berlangsung selama mereka asyik bercanda dan berbincang dengan kita.

Keempat, mengajarkan aturan hidup. Agama ini akan mereka rasakan jika perannya mereka jumpai dalam kehidupan seari-hari. Mereka menjumpai aturan agama pada situasi apapun serta dalam urusan apapun. Artinya, agama hadir bukan hanya dalam shalat dan ibadah ritual lainya, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan.***

(Sumber: Mohammad Fauzil Adhim/ Suara Hidayatullah, Agustus 2007)

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam