bookmark bookmark
Sygma On July - 31 - 2013

MuhammadTeladanku.com – Banyak orangtua punya banyak waktu di rumah, tetapi anak-anak tak merasakan kehadirannya. Mereka banyak melakukan kegiatan bersama, tapi tanpa kebersamaan. Mereka sama-sama menonton TV, di tempat yang sama, tetapi pikirannya sibuk sendiri-sendiri. Mereka duduk saling berdekatan, tetapi tidak menjalin kedekatan. Sama seperti penumpang bus antarkota. Duduk berdampingan dari Surabaya ke Jakarta tetapi, sampai di tempat tujuan tidak saling kenal. Sebabnya, mereka hanya saling dekat secara fisik (physical closeness), bukan dekat secara emosi (attachment).

Pentingnya Kedekatan

Hasil-hasil riset menunjukkan, secure attachment (kedekatan emosi yang aman) antara anak dan orangtua, sangat berpengaruh terhadap penerimaan diri, harga diri dan percaya diri anak nantinya. Sementara, percaya diri sangat berpengaruh terhadap kecakapan untuk menyesuaikan diri secara tepat dengan lingkungan dan kemampuan bertindak tegas.

Anak-anak yang percaya dirinya rendah, cenderung mudah dipengaruhi lingkungan, termasuk pengaruh yang paling buruk. Mereka kurang berani bersikap tegas, karena khawatir kehilangan teman atau takut menghadapi ancaman.

Selain itu, anak-anak yang percaya dirinya rendah, juga cenderung kurang mampu belajar dengan baik. Mereka memiliki IQ yang tinggi tetapi tidak memiliki sense of competence (kesadaran akan kemampuan) yang baik sehingga merasa tidak mampu. Mereka tidak memiliki efikasi diri yang kuat sehingga cenderung mudah surut langkah ketika menghadapi kesulitan.

Sementara ketika berhasil melakukan pekerjaan dengan baik, mereka tidak memiliki keyakinan bisa melakukan hal yang sama di lain waktu atau menganggapnya sebagai hal biasa yang tak bermakna. Apa artinya? Selain mencerdaskan otaknya, salah satu bekal yang harus kita berikan kepada anak-anak kita adalah kedekatan emosi yang hangat.  

Mereka bahagia jika berdekatan dengan kita, bukan karena uang yang kita berikan, tetapi, karena waktu yang kita luangkan untuk bercanda dan berbincang bersama mereka. Mereka rindu kepada kita tatkala saling berjauhan, bukan karena menanti sekeranjang oleh-oleh yang menggugah selera, tetapi karena mengharap pertemuan yang mengalir di dalamnya nasihat bersahabat.

Kedekatan yang hangat juga membuat anak-anak lebih mendengar kata-kata kita. Secara alamiah, kita cenderung memercaai dan mengikuti orang yang dekat di hati. Orang baik itu lebih berpengaruh daripada orang pintar. Kadang manusia rela mengorbankan akal sehat karena mengikuti apa yang tampaknya baik.

Kedekatan itu lebih terasa lagi pengaruhnya, ketika anak-anak kita beranjak remaja. Kepada siapa mereka mencurahkan isi hati, mengungkapkan masalah dan mencari jalan keluar dari persoalan hidup yang dihadapi, sangat dipengaruhi oleh kedekatan emosi mereka. Mereka tak akan mencari orangtuanya ketika menghadapi masalah, jika tidak ada kedekatan emosi yang kuat. Mereka hanya akan memercayakan masalahnya kepada orang yang dirasakannnya bisa menjadi sahabat sekaligus memiliki kredibilitas untuk menjaga harga diri dan memecahkan masalah.

Masalahnya adalah kita hampir tidak mungkin membangun kepercayaan pada diri mereka jika tidak ada kedekatan emosi di masa kecil mereka. Mereka mungkin tetap hormat kepada kita, tetapi bukan percaya.

Agar kita bisa lebih dekat dengan anak-anak, tidak bisa tidak kita harus secara sengaja meluangkan waktu buat mereka. Sekadar memiliki waktu bersama mereka, tidak dengan sendirinya membuat kehadiran kita berarti. Bersama-sana melakukan kegiatan bersama mereka, hanya akan bermakna jika anak-anak merasakan perhatian dan cinta kita.

Kita mungkin sering mengatakan kepada mereka, betapa kita sangat menyayangi mereka. Masalahnya, apakah mereka merasa kita sayangi? Sama seperti waktu kita bersama mereka, apakah mereka merasakan betul  bahwa kita meluangkan waktu untuk mereka ataukah kebetulan saja saat ini kita bersama anak-anak?***

(Sumber: Mohammad Fauzil Adhim, praktisi parenting/ Suara Hidayatullah, Agustus 2007)

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam