bookmark bookmark
Sygma On July - 31 - 2013

ilustrasi-otak2-300x299MuhammadTeladanku.com – Seorang ibu meneliti perkembangan otak bayinya sendiri dengan sebuah alat khusus yang dipasang di kepala sang bayi. Alat itu kemudian dihubungkan dengan kabel-kabel komputer, sehingga dia bisa melihat pertumbuhan sel syaraf otak anaknya melalui layar monitor. Perlu waktu cukup lama untuk menyiapkan semua peralatan tersebut.

Ketika bayinya bangun, dia lalu memberinya ASI. Ketika sang bayi menyusui itulah, ia melihat gambar-gambar syaraf itu membentuk rangkaian yang indah. Dia terpesona dan berkata “O, begitu menakjubkan”.

Ketika sedang asyik menyusui, si bayi berusia sembilan minggu bernama Julia itu menendang salah satu kabel komputer. Si ibu kaget dan berteriak, “No!”.

Karena teriakan ibunya, bayi itu kaget. Ketika itu, si ibu melihat gambar sel syaraf tadi menggelembung seperti balon, membesar dan pecah. Kemudian terjadi perubahan warna, yang menandai kerusakan sel.

“Mungkin, kesedihan ini hanya saya yang menanggungnya. Sebagai ibu sekaligus scientist, saya menyaksikan otak anak saya hancur oleh teriakan saya, ibunya,” demikian diungkapkan Lisa Eliot, Ph.D, seorang pakar biologi dan anatomi sel Chicago Medical School, Amerika Serikat, dalam bukunya What’s Going On in There.

Dari peristiwa itu kita bisa belajar, betapa satu teriakan saja bisa menggugurkan sel otak, apalagi denan kemarahan yang terus menerus?

Marah, kerap dianggap hal biasa, baik di rumah maupun di sekolah. Jika anak melakukakn kesalahan, dengan kemarahan, orang tua sering berharap bahwa si anak akan lekas mengerti, berubah sikap dan tak mengulangi lagi perbuatannya. Namun, penelitian otak terkini menunjukkan, ketika seorang anak dimarahi, maka yang terjadi adalah bergugurannya sel otak.

Tak hanya kalau dimarahi. Ketika marah pun otak seseorang akan mengalami kerusakan, termasuk anak-anak. Dalam darah ada hormon cortisol yang biasanya meningkat dalam keadaan stres atau marah. Jika hormon cortisol tinggi, itu bisa merusak otak pusa memori. Karena itu, orang pemarah bisa menjadi pelupa

Oleh karena itu, ketika anak marah, untuk mengontrol emosinya, disarankan untuk merangkul, memeluk, mencium, atau mengusapnya dengan lembut. Semua sentuhan akan meningkatkan otak untuk memproduksi oksitosin atau hormon cinta.  Jika oksitosin diproduksi banya, maka dapat menekan cortisol sehingga seseorang bisa berpikir lagi dengan baik.

Oksitosin dalam hal ini dilepaskan sebagai respons terhadap kontak sosial, terutama pada skin to skin contact. Hormon ini dilepaskan setiap kita memeluk anak atau bayi, terutama pada saat menyusui. Karena itu, kontak fiik yang teratur dan terus menerus dari orang tua cenderung akan membuat anak merasa aman dan nyaman.

Marah tak hanya mengganggu otak, juga dapat mengubah fungsi organ tubuh. Berdasarkan penelitian ilmiah, marah dapat menimbulkan berbagai perubahan dalam seluruh anggota tubuh seperti hati, pembuluh darah, perut, otak dan kelenjar-kelenjar dalam tubuh. Seluruh jalan fungsi tubuh yang alamiah berubah pada waktu marah.

Nah, ketika anak melakukan kesalahan, masihkah orang tua akan memarahi anaknya? Ketika ingin menanamkan hal positif pada anak, mana yang lebih baik, dengan cara marah atau dengan sentuhan dan kasih sayang?***

(Sumber: Ida S. Widayanti/Suara Hidayatullah, Agustus 2007)

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam