bookmark bookmark
Sygma On July - 11 - 2013

ramadhanMuhammadteladanku.com – Bulan Ramadhan telah tiba. Selain mempersiapkan diri kita untuk beribadah, sebagia orang tua, kita juga perlu menyiapkan anak untuk yang telah cukup usianya untuk bisa melaksanakan puasa.

Bagi kita yang sering melaksanakan ibadah shaum ramadhan, berpuasa menjadi hal yang tidak terlalu berat. Tetapi, bagi anak kita yang baru pertama kali menjalaninya, tentu saja perlu pembiasaan, seperti halnya kita dulu dibiasakan dulu menjalankan puasa oleh orang tua kita.

Bagaimana pembiasaan itu dilakukan? Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ar-Rubaiyyi binti Muawwidz bahwa Rasulullah saw. mengutus seseorang pada pagi hari Asyura ke perkampungan orang-orang Anshar. Katanya: “Siapa yang pagi ini berpuasa maka hendaklah ia berpuasa dan menyempurnakan puasanya. Maka, kamipun menyempurnakan puasa pada hari itu dan kami mengajak anak-anak kami berpuasa. Mereka kami ajak ke masjid, lalu kami beri mereka mainan dari benang sutera. Jika mereka menangis minta makan kami berikan mainan itu, sampai datang waktu berbuka.”

Hadist tersebut mencontohkan salah satu cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk membiasakan anaknya menjalani ibadah puasa, yaitu dengan permainan. Ini dilakukan karena dunia anak adalah dunia bermain. Dengan bermain pula penanaman itu bisa kita berikan.  Dengan menggiring lewat kegembiraan bermain, proses yang kita tanamkan akan lebih mudah diterima ketimbang langsung sesuai kehendak kita.

 

Sebenarnya, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengenalkan anak kita apa itu puasa. Namun, yang paling penting dan utama adalah bagaimana orang tua dan keluarga mendukung proses itu. Orang tua harus memberi teladan dan contoh langsung, sehingga anak sedikit demi sedikit berpikir dan tergerak untuk meniru.

Menurut psikolog anak, Arofah Mundriani, S.Psi, Psi, orang tua sudah bisa mengajari anaknya perihal puasa mulai usia 3 tahun. Meski demikian, di usia tersebut, kata Arofah, sisi emosional anak harus menjadi perhatian orang tua.

“Pada usia ini anak biasanya akan mudah mengeluh baik psikis atau fisiknya. Anak juga mudah rewel dan gampang tidak bisa konsentrasi. Hal ini mengakibatkan anak menjadi labil dan staminanya turun sehingga mempengaruhi gerak dan daya konsentrasinya,” ujar konsultan psikologi di beberapa lembaga pendidikan anak ini.

Agar hasil pembelajaran bisa maksimal, Arofah menyarankan perlunya dibuat kesepakatan dan aturan. Setelah orang tua memperhatikan kondisi anaknya, lingkungan keluarga harus mendukung dan mematuhinya. Semua anggota keluarga harus kompak mematuhinya dan jangan sampai ada yang melanggar. Menurut Arofah, apapun teknik dan cara yang dilakukan yang paling utama adalah contoh dan teladan.

Sistem punishment dan reward kayaknya juga perlu diterapkan. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya itu menjelaskan, penerapan hukuman dan penghargaan ini dilakukan pada batas normal dan tujuan pembelajaran, juga disesuaikan dengan tingkat kebutuhan anak dan kondisi keluarga.

la mencontohkan, orang tua bisa menjanjikan hadiah suatu barang yang diperlukan anak. Tentu dengan syarat anak itu mampu menjalani puasa setengah hari atau sehari. “Kalau memang anak mampu dan lebih terdorong untuk belajar berpuasa, orang tua harus memberi hadiah. Tetapi, kalau anak tidak mampu dan tidak bisa berubah punishment-nya ya tidak kita belikan,” tuturnya. ***

 

Sumber : Majalah Al Falah Agustus 2009

 

——————

Categories: Artikel, Berita

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam