bookmark bookmark
Sygma On August - 29 - 2013

muhammadteladanku.com – Pada dasarnya setiap anak adalah pemenang. Mengapa demikian? Karena kehadiran mereka ke dunia diawali dari suatu kemenangan yang diperolehnya. Mereka hadir karena kesuksesan. Seorang pemenang tidak senang direndahkan dan dipermalukan.

Kalimat berikut ini menjelaskan bahwa setiap anak adalah buah dari kemenangan.

You were born as a winner, cos’ as a sperm, you had won your race over the other millions to get to the ovum.” (Kamu dilahirkan sebagai seorang pemenang, karena kamu adalah satu sperma yang mengalahkan jutaan sperma sainganmu untuk mencapai sel telur).

Di dalam rahim ibunya mereka berlomba berenang dengan segenap tenaga yang dimilikinya agar cepat-cepat dapat sampai ke sel telur yang dikeluarkan oleh ibunya. Untuk menjadi seorang yang benar-benar mempunyai predikat pemenang, itu saja ternyata tidak cukup. Sel sperma yang sehat ini harus mampu menembus dinding sel telur yang kuat. Tidak sembarang sel sperma mampu menembus dinding sel telur, walaupun ia telah menyentuh dindingnya sekalipun.

Dan kemenangan ini bukan hanya selesai sampai ketika sebuah sperma berhasil menembus dinding sel terlur milik ibunya. Akan tetapi berlanjut terus sampai akhirnya ia melewati ujian selama hampir 9 bulan di rahim ibunya. Tidak sedikit dari mereka yang gagal di tengah jalan. Tidak bisa melengkapi kemenangan-kemenangan yang berikutnya. Bisa jadi karena itulah takdir yang telah Allah SWT tetapkan bagi hidupnya.

Anak-anak adalah buah dari banyaknya kemenangan. Karena itu proses ini harus diingat terus oleh sang ayah. Janganlah selalu melihat apa yang terjadi sesaat akan tetapi selalu lihatlah bagaimana proses yang sulit dan kritis itu ikut mengikutinya.

Ada sebuah pepatah yang menarik untuk kita renungi bersama, “You know my name, not my story. You’ve heard what I’ve done, not what I’ve been through. So stop judging me.” (Kamu tahu namaku tapi tidak mengetahui sejarahku. Kamu mendengar apa yang aku kerjakan, akan tetapi bukan apa yang aku lalu. Jadi berhentilah menilaiku)

Seorang pemenang yang bernama anak terkadang bisa salah. Akan tetapi sebenarnya mereka sedang melalui proses keberhasilan sebagaimana ketika mereka berjuang keras untuk menuju ke dinding sel telur tadi. Karenanya, seorang ayah yang baik, dia haruslah selalu mengiringi usaha keberhasilan anak-anaknya, agar ia tidak hanya menyaksikan buah dari perjuangannya saja. Agar ia tahu makna dari sebuah perjuangan yang dahsyat dalam rangka mencapai keberhasilannya.

Ketika seorang ayah tahu bahwa anaknya adalah pemenang sejati, dan pejuang yang gigih, ia akan selalu menjadi pengayom dengan hasil akhir perjuangan yang diraihnya. Ia tidak akan merendahkan anak-anaknya. Ia akan tetapi menjadi pendamping setia anak-anaknya. Ia tidak akan mempermalukan anak-anaknya, karena mereka masih dalam perjuangan meraih dirinya sebagai pemenang.

Di hadapan anak-anaknya, seorang ayah adalah penanam saham penentu keshalehan anak-anaknya.

Rasulullah SAW bersabda: “Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat?“ kemudian beliau membaca firman Allah yang berbunyi: “…tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.” (QS. Ar Ruum [30]: 30).(HR. Bukhari)

Seorang pemenang harus dihargai dan dimuliakan, karena ia mempunyai sifat gagah. Sebagaimana ketika Luqman berbicara dengan anak-anaknya. Seorang ayah yang memanggil anaknya dengan panggilan mesra, pasti akan berdampak luar biasa pada anak-anaknya.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]:13)

Karena itu, wahai para ayah, engkau telah bersama-sama dengan pemenang, maka raihlah kemenangan selanjutnya bersama-sama dengan anak-anakmu!.***

(Yusuf Muhammad Efendy, tinggal di San Francisco, Amerika)

Sumber: Hidayatullah.com

Sygma Daya Insani

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam