bookmark bookmark
Sygma On August - 23 - 2013

menghukum anakmuhammadteladanku.com – Tingkah polah anak, pada suatu waktu, tidak sesuai dengan harapan kita. Terkadang, tingkah laku mereka mendorong emosi kita meninggi. Jika tidak bisa menguasai diri, dengan mudah kita bisa menerapkan sanksi secara spontan dan tanpa berpikir lebih dulu tingkat kesalahan anak dan efek yang muncul dari sanksi yang kita berikan.

Menurut Miftahul Jinan, penulis buku Alhamdulillah, Anakku Nakal, sanksi spontan yang diberikan orangtua kepada anaknya yang melakukan kesalahan, tidaklah tepat. Hal ini dikarenakan, dalam kondisi emosi tinggi:

  1. Pikiran tidak bisa berpikir jernih untuk menentukan kadar sanksi yang diberikan bagi anak dan tentang nilai pendidikannya.
  2. Dalam kondisi emosi yang tinggi, otak reptile (otak darurat) mendominasi sehingga otak berpikir dan otak mamalia (perasaan) kurang berperan. Bisa jadi, sanksi yang diberikan memberatkan anak, bahkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan kesalahan yang mereka perbuat.
  3. Tidak ada jeda antara emosi yang tinggi dengan keputusan sanksi yang keluar sehingga sanksi tersebut masih sarat dengan nuansa emosional tanpa mempertimbangkan aspek-aspek psikologis anak. Akibatnya, alih-alih memperbaiki, hal tersebut justru dapat merusak polah anak. 

Produk keputusan yang berdasarkan kondisi emosi tinggi, tidak akan membuat anak memahami kedisiplinan. Mereka menghindarinya karena takut melakukannya. Di kemudian hari, saat ketakutan tersebut hilang dan lepas dari pengawasan orang tua, mereka akan cenderung melakukannya kembali.

Selain itu, memberikan sanksi tanpa pertimbangan yang bijak, akan membuat kita menyesal di kemudian hari. Karena bisa jadi, sanksi yang diberikan tidak sesuai dengan kadar kesalahannya. Akan lebih baik jika kita cukup menasihatinya dan memberinya pengertian melalui penjelasan yang lebih masuk akal dan membuatnya paham mengenai kesalahan yang dilakukan sehingga anak bisa memperbaiki dirinya tanpa merasa terpaksa.

Mftahul Jinan menyarankan, jika kita emosi melihat tingkah polah anak dan terpaksa harus memberikan sanksi kepadanya, berikan sanksi tersebut saat emosi kita sudah stabil sehingga bisa memikirkan secara bijak sanksi yang diberikan berdasarkan hati yang tenang dan pikiran yang sadar. Bisa jadi, kita tidak perlu memberikan sanksi, cukup dinasihati secara baik-baik.

Sebaliknya, saat kita mendapati anak melakukan kebaikan dan kita memberi pujian atau penghargaan kepadanya, pastikan kita melakukannya dengan spontan dan janganlah menunda untuk segera memberi pujian. Spontanitas adalah salah satu tanda ketulusan sehingga orang tua yang memberi pujian dengan spontan, berarti ia memberikan pujian tersebut dengan penuh ketulusan.

Jika saat ini kita lebih sering memberikan sanksi kepada anak dengan spontan dan sebaliknya memikirkan terlebih dulu saat memberi pujian kepada mereka, maka saatnya kita mengubah kebiasaan tersebut. Kebiasaan baru ini akan mempermudah kita untuk memperbaiki  kesalahan-kesalahan anak dan meneguhkan kebaikan-kebaikan yang mulai muncul pada diri anak. Kata kuncinya adalah pujilah anak dengan spontan dan pikirkan dahulu sebelum menghukum. *** (roni ramdan)

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam