bookmark bookmark
Sygma On August - 19 - 2013

ketakutan-positifDaya ingat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya oleh emosi positif yang disebut optimisme. Salah satu faktor yang mendorong anak untuk optimis adalah keyajinan terhadap pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla; bahwa Tuhan tak pernah tidur dan senantiasa menolong hamba-Nya yang memerlukan. Di sinilah kita membangun pemahaman sekaligus orientasi hidup pada anak tentang siapa saja orang yang senantiasa mendapat perolongan Allah dan apa saja syaratnya.

Jika optimise berpengaruh terhadap daya ingat serta kemapuan memahami, maka kekhawatiran dan rasa takut, membuat otak sulit mencerna informasi yang kita terima. Anak-anak yang cemas saat belajar cenderung lamban dalam memahami pelajaran serta lemah dalam mengingat apa yang sudah dipelajari. Terlebih, jika dibayangi kegagalan, anak akan cenderung stres dan sulit memusatkan perhatian. DI saat konsentrasi lemah seperti itu, pelajaran yang mudah pun akan terasa sulit.

Ironisnya, kita justru sering menuntut mereka agar memerhatikan pelajaran di saat mereka sedang mengalami kesulitan berkonsentrasi. Ini membuat anak merasa semakin cemas. Mereka pesimis. Tak berdaya. Ujungnya, ia mulai menunjukkan perilaku menyimpang, nakal dan sejenisnya.

Tindakan ini justru menguatkan keyakinan orang tua maupun guru bahwa anak-anaknya tidak bisa diatur, bodoh dan sejenisnya. Sebuah lingkaran setan yang sempurna. 

Terhadap kondisi tersebut, Mohammad Fauzil Adhim, praktisi parenting, mengatakan, sebagai orang tua, kita perlu memberi motivasi kepada anak-anak dengan membangun kedekatan emosi antara orang (termasuk orangtua) dan anak, membangkitkan antusiasme, menumbuhkan tujuan yang kuat, optimisme, serta tanamkan makna dan nilai yang kokoh. Gugah mereka untuk mempunyai mimpi besar di masa datang. Mimpi untuk berbuat dan bermakna. Bukan angan-angan untuk mendapatkan dunia melalui kecerdasannya.

Selain motivasi langsung, penguatan tujuan juga bisa kita lakuakn dengan menciptakan rasa takut yang positif. Jika rasa takut menghadapi ujian akan melemahkan kemampuan mereka dalam belajar, maka ketakutan yang berpijak pada rasa tanggung jawab terhadap masa depan umat ini, akan menguatkan tujuan. Semakin efektif kita menanamkan rasa takut yang positif, akan semakin kuat tekad mereka untuk belajar. Kita ajak mereka untuk membayangakn masa depan yang mengerikan bagi bangsa, umat atau keluarga, kecuali jika mereka bersungguh-sungguuh merebut masa depan.

Sumber: Suara Hidayatullah, April 2008

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam