bookmark bookmark
Sygma On September - 4 - 2013

muhammadteladanku.com – Artikel ini kita akan membahas komunikasi orangtua dengan anak remaja. Setiap manusia akan melalui tahapan tumbuh dan berkembang seusai bertambahnya usia. Setiap anak yang dilahirkan akan pula mengalami fase-fase tumbuh kembangnya. Bagi orang tua, setiap fase akan dijalani pula dengan menerapkan perlakuan berbeda kepada anaknya yang sudah beranjak dewasa. Apalagi dalam kondisi saat ini ketika jaman sudah banyak berubah dibandingkan dengan saat orang tua dididik saat kecil.

Ketika itu bisa jadi, saat orangtua masih kecil, dibesarkan dalam suasana keagaam. Sementara, anak-anak lahir dan berkembang dalam sistem sekuler. Perbedaan kondisi tersebut, bisa menjadi pemicu munculnya masalah antara orang tua dengan anak remajanya.

Bagi seorang anak, usia 10 tahun merupakan masa transisi menuju remaja, yang dimulai di usia 12 atau 13 tahun. Pada saat itu, anak-anak remaja lebih banyak mengambil referensi ke temannya dibandingkan ke orangtua mereka dalam melakukan sesuatu. Teman-temannya lebih sering dimintai pendapatnya daripada orangtuanya. Pada masa ini, remaja akan mencoba melihat sampai batas mana ia boleh melakukan sesuatu. Rasa ingin tahunya pun cukup besar. Jika tidak terkendali, remaja bisa saja mencoba sesuatu yang tidak benar.

Ayah-Bunda harus siap menjadi referensi bagi anak remajanya, ketika ia bertanya atau ingin berdiskusi dengan orangtuanya mengenai masalah yang ia miliki. Dengan cara tersebut, diharapkan terjadi keterbukaan antara orangtua dengan anak remaja.

Dalam kondisi seperti ini, komunikasi berperan sangat penting. Orangtua sudah harus membiasakan diskusi sebagai bagian dari komunikasi yang dijalin dengan anak remajanya. Dalam kondisi seperti ini, anak remaja membutuhkan sandaran untuk bertanya tentang segala sesuatu yang dihadapinya. Ketika terjadi masalah, misalnya, orang tua bisa mengajak anaknya berdiskusi menyelesaikan masalah tersebut, alih-alih menyalahkan si remaja, yang akan berujung pertengkaran.

Agar remaja mempunyai keteraturan hidup, ada satu hal yang bisa dilakukan, yaitu membuat perjanjian tertulis antara orangtua dan anak remajanya. Misalnya, yang berkaitan dengan hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Dengan adanya perjanjian tertulis tersebut, remaja bisa membaca hal-hal yang telah disepakati dengan orangtuanya sehingga tidak mudah melakukan pelanggaran. Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah membuat jadwal keseharian yang tetap bagi remaja. Tujuannya membuat remaja mulai belajar hidup teratur.

Orangtua tetap berperan dalam pendidikan anak remajanya. Namun, ada perbedaan dalam memperlakukan anak remaja dengan ketika mereka masih anak-anak. Sebagai contoh, jika terjadi perbedaan pendapat antara suami dan istri, sebaiknya tidak ditunjukkan kepada anak-anak. Namun hal ini tidak boleh disembunyikan dari anak remaja karena mereka perlu penjelasan sehingga mengerti permasalahan tersebut.

Hal yang tak kalah penting dilakukan orangtua adalah memberi nasehat dan contoh. Misalkan, jika ingin mengajak remaja putrinya berjilbab, orangtua bisa mengajaknya ketika hari besar-besar Islam. Demikian pula menceritakan kisah wanita-wanita saleh yang mendapat tempat spesial di dalam Islam karena ketakwaan mereka.

Hal penting yang juga perlu dilakukan oleh orangtua di antaranya membuat peraturan di dalam rumah yang harus ditaati oleh semua pihak, termasuk remaja. Peraturan itu penting diterapkan agar remaja memahami arti sebuah peraturan. Namun jika anaknya melanggar, berikan hukuman yang mendidik dan jelaskan pula alasan hukuman itu harus diberikan kepadanya.

Salah satu yang sering menjadi persoalan dalam kehidupan remaja adalah nilai pelajaran sekolah. Tidak setiap saat, anak orangtua memperoleh nilai yang bagus. Sebagai orang tua, peran orangtua bukan menekan anaknya untuk bekerja lebih keras. Tapi, berilah mereka motivasi. Misalnya dengan mengatakan kepada mereka,”Saya percaya kamu, saya yakin kamu bisa mendapatkan lebih dari itu”, dan dengan senyuman tentunya. Untuk itu, perlu diatur kalimat yang baik yang membuat anak remaja makin bertambah semangat.

Dalam mendidik anak-anak dan remaja, hindari kekerasan secara verbal (kata-kata) dan fisik. Maksud kekerasan secara verbal di sini yaitu tidak menyampaikan maksud kita dengan melontarkan kata-kata kasar, keras atau teriak-teriak. Tetapi menggunakan kata-kata yang bagus dan lemah-lembut. Kekerasan secara fisik seperti memukul juga agar tidak dilakukan.

Dalam memahami hadist Rasulullah tentang membolehkan memukul anak yang tidak mau shalat harus dipahami dengan baik. Saat anak berumur 7 tahun, orangtua harus memberi contoh terlebih dahulu. Namun, jika orangtua sudah memberi contoh yang baik dan anak tidak mau mengikuti, maka pada usia 10 tahun boleh dipukul. Itupun dilakukan secara halus dan menghindari bagian-bagian tubuh yang vital. Tetapi yang perlu diperhatikan, antara usia 7sampai 10 tahun, orangtua harus terus membimbing anak secara terus menerus. Bahkan perlu ada pengulangan-pengulangan sehingga anak benar­benar terbiasa dengan aktivitas itu. Dan harapannya adalah pada umur 10 tahun bisa terhindar dari tindakan memukul anak.

Orangtua juga harus bersikap adil dengan tidak membandingkan satu anak remaja dengan remaja lainnya. Ini karena setiap remaja mempunyai kemampuan berbeda. Dalam hal ini orangtua harus mengarahkan anaknya bahwa orang yang pintar bukan karena tinggi intelektualnya, namun mereka yang bisa mengendalikan emosinya atau bisa mengendalikan marahnya. Ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh baginda Rasulullah dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, bahwa “Orang yang kuat, adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika dia marah.”

Mudah-mudahan artikel ‘Komunikasi Orangtua dengan Anak Remaja‘ bermanfaat. *** (roni ramdan/ diolah dari tulisan di majalah suara hidayatullah edisi 2, Juni 2012)

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam