bookmark bookmark
Sygma On September - 2 - 2013

muhammadteladanku.com – Suatu hari, salah satu barang kesayangan kita jadi rusak atau tidak berfungsi lagi karena ulah anak kita yang kita cinta. Apalagi, barang yang jadi rusak tersebut memiliki kenangan yang luar biasa untuk kita. Apa yang akan Anda perbuat? Ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Ayah Bunda bisa jadi sangat marah dan dengan spontan mengungkapkannya dengan kata-kata yang cukup kasar dan suara meninggi, bisa juga dengan memberikan hukuman fisik, atau Anda tetap tenang, meski emosi, dengan mengingat bahwa yang melakukannya adalah anak kita tercinta yang bisa jadi karena ketidaksengajaan.

Bisa kita bayangkan bagaimana takutnya anak kita saat tahu bahwa dia telah merusak benda kesayangan orang tuanya. Jika kita tambah lagi dengan memarahinya, tentu saja ketakutannya akan bertambah dan bisa jadi menangis histeris. Tegakah kita melakukan itu?

Bunda Neno, mengibaratkan apa yang terjadi pada otak anak kita melihat reaksi kita yang demikian adalah bagaikan kuncup bunga yang mulai mekar, tiba-tiba ada kekuatan besar yang memaksanya untuk menutup kembali. Mungkin akan lebih sulit bagi kuncup itu untuk mekar kembali.

Dalam buku Adventures in Parenting disebutkan bahwa sikap pertama dengan merespons secara spontan dari suatu kejadian disebut bereaksi. Saat bereaksi, kita cenderung tidak memikirkan hasil apa yan kita kehendaki dari suatu kejadian atau tindakan. Lebih dari itu, jika kita bereaksi, kita tidak dapat memilih cara terbaik untuk mencapai hasil yang kita inginkan.

Sedangkan, sikap kedua atas suatu peristiwa adalah responding, yaitu memberikan respon dengan mengambil waktu sejenak untuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, sebelum kita berbicara, berperasaan, atau bertindak sesuatu.
Bisa dalam hitungan detik, menit bahkan hari. Responding memungkinkan kita sebagai orang tua melihat secara lebih jelas apa yang sedang terjadi dan apa yang kita kehendaki dari anak-anak di masa yang akan datang.

Rasulullah saw dikisahkan menggendong putra salah seorang sahabat dengan penuh kelembutan. Tiba-tiba anak tersebut buang air kecil pada gamis beliau. Dengan cepat dan agak kasar ditariklah anak kecil tersebut oleh orang tuanya dari gendongan Rasulullah dengan harapan tidak semakin banyak air kencing yang mengenai gamis Rasulullah. Melihat peristiwa itu akhirnya Rasulullah SAW bersabda, “Mungkin air kencing ini mudah aku bersihkan dari kainku, tetapi siapa yang mampu menghilangkan kekerasan dari hati anak ini akibat perilaku kasar yang telah terjadi padanya?”.

Alangkah indahnya seorang bapak, ibu, atau guru yang selalu memberi respons dari setiap perilaku ekploratif anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Ada sebuah pepatah, bangunlah kebiasaan niscaya kebiasaan tersebut akan membangun kita. Biasakan untuk merespons perilaku putra-putri kita dengan lembut, niscaya mereka akan merespon perilaku kita juga dengan penuh kelembutan.

Dengan memberikan respons yang tepat terhadap perilaku anak-anak kita, baik perilaku positif maupun negatif memungkinkan kita untuk:

  1. Berpikir tentang beberapa pilihan yang terbaik sebelum kita mengambil keputusan. Mengambil waktu sejenak untul melihat sebuah masalah dari berbagai sisi membuat kita memiliki kemungkinan untuk memilih respons yang paling tepat
  2. Menjawab sejumlah pertanyaan mendasar; apakah ucapan kita sesuai dengan apa yang sedang kita pikirkan? Apakah tindakah kita sesuai dengan ucapan kita? Apakah emosi kita terlibat dalam cara kita mengambil keputusan? Apakah kita sudah memahami alasan-alasan yang mendasari perilaku anak-anak kita?
  3. Mempertimbangkan peristiwa sebelumnya yang serupa dan mengingatkan kembali bagaimana kita menangani peristiwa tersebut.
  4. Menjadi orang tua yang lebih konsisten, karena anak-anak akan tahu bahwa kita tidak asal-asalan dalam membuat keputusan, terutama jika kita menjelaskan mengapa kita memilih untuk membuat keputusan tersebut
  5. Memberikan contoh bagaimana membuat sebuah keputusan yang bermakna. Sejalan dengan bertambahnya usia anak-anak kita, mereka akan mengetahui proses pembuatan keputusan yang kita lakukan dan menghargai waktu yang kita butuhkan dalam membuat sebuah keputusan. 

Menjadi orang tua yang responsif memang tidak mudah. Kita harus mengubah pola pikir yang sudah terbiasa dengan perilaku reaktif. Semua butuh waktu. Tinggal kita yang menentukan, mana yang lebih penting, barang kesayangan atau perasaan anak-anak kita? *** (roni ramdan-Penulis dari Sygma Daya Insani)

Sumber: griyaparenting.com

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam