bookmark bookmark
Sygma On September - 26 - 2013
Memahami Maksud Pernyataan Anak

Memahami Maksud Pernyataan Anak

muhammadteladanku.com – Ayah-Bunda, pernahkah menerima pernyataan seperti ini dari anak perempuan Anda yang masih SD kelas 5?: “Ma, aku suka sama temanku, Hamzah.”

Mendengar pernyataan tersebut, beragam respon bisa diberikan orangtua kepada anaknya. Salah satu yang barangkali banyak disampaikan adalah seperti ini:

“Nak, kamu masih terlalu kecil buat seneng sama teman laki-lakimu, apalagi berpacaran.”

Atau pernahkah Anda mendengar anak-anak menyatakan kalimat yang sekilas terasa bertentangan dengan kaidah-kaidah moral, seperti: aku benci papa, ibu jahat, aku gak mau ditemani eyang, dan lainnya.

Sebagai orang tua, menghadapi pernyataan-pernyataan tersebut, kita sering melihat hanya dari wujud nyata kalimat yang dipergunakan, sehingga berujung pada respon kita yang sering memarahi atau memberi ‘ceramah’ yang sebenarnya tidak diharapkan anak.

Padahal dibalik kata-kata anak, ada maksud tersendiri. Orang tua seringkali segera menilai pernyataan anak berdasarkan persepsinya, tanpa terlebih dulu bertanya tentang maksud dari pernyataannya tersebut. Hal ini bisa berakibat, anak tidak mau lagi bercerita, dan mereka lebih memilih temannya sebagai teman curhat. Anak yang berani mengungkapkan perasaan senangnya kepada teman laki-lakinya, bisa jadi hanya ingin didengarkan dan diterima perasaannya tersebut.

Menurut Miftahul Jinan, penulis buku parenting, ketika orang tua mencoba untuk mendengarkan dan menerima terlebih dahulu pernyataan anak dan tidak segera menilai atau memberkan nasihat, maka sesungguhnya orang tua mempunyai kesempatan untuk mengetahui lebih jauh motif dan maksud di balik pernyataan anak. Dengan demikian, jika kita  merasa anak perlu diarahkan atau dinasihati atas motif tersebut, maka kita dapat memberi arahan yang sesuai dengan maksud anak.

Ketika kita mencoba untuk lebih mendengarkan dan bertanya lebih lanjut, kita bisa menemukan maksud dari rasa senang tersebut. Dengan bertanya kenapa suka dengan teman laki-lakinya, akan muncul jawaban yang ternyata, rasa senang tersebut muncul karena teman laki-lakinya itu pintar dan suka membantunya.

Rasulullah pun pernah menerima pernyataan serupa yang bertentangan dengan moral dari seorang pemuda yang menghadap beliau.

“Wahai Rasul, aku telah dapat tunaikan seluruh ajaran Islam, kecuali zina”.

Mendengar pernyataan pemuda tersebut, beberapa sahabat marah. Tetapi, Rasul dengan santun malah bertanya, “Wahai pemuda, apakah kamu punya bibi atau saudari perempuan?”

 “Ya,” jawab pemuda tersebut                                                                 

Rasulullah saw bertanya lagi, “Bagaimana perasaanmu jika ada yang menzinai bibi atau saudarimu?”

Dengan lantang pemuda itu menjawab, “Saya akan bunuh orang yang berani berbuat kurang sopan terhadap bibi dan saudariku!”

Rasulullah saw. berkata, “Begitu pula perasaan orang-orang yang bibi dan saudarinya telah engkau zinai.”

Rasulullah saw. tidak langsung menolak pernyataan tersebut dengan ceramah atau instruksi. Tetapi, Rasulullah saw berusaha memahami perasaan pemuda tersebut dan mengungkapkan pertanyaan yang mendorongnya untuk menjawab sekaligus menghentikan kebiasaan buruknya.

Ketika anak berkata “ibu jahat!”. Biasanya yang dimaksudkan bukanlah arti jahat bagi orang dewasa. Mungin ia kecewa karena ibunya tidak membelikannya coklat, sehingga respon yang lebih pas adalah “Kamu kecewa ya, karena tidak dibelikan coklat?” bukan,”Nak, nggak sopan bilang mama jahat.”

Dengan menerima lebih dulu apa yang disampaikan anak, sebenarnya kita memiliki peluang untuk mengetahui maksud pernyataan tersebut sekaligus membenarkan kata yang ia pilih untuk mengungkapkan perasaannya. Selanjutnya, ia akan lebih mudah menerima pendapat kita, karena ia merasa diterima oleh orangtua atas pernyataan sebelumnya. *** (roni ramdan)

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam