bookmark bookmark
Sygma On September - 2 - 2013

Muhammadteladanku.com – Memergoki selalu identik dengan menjumpai tanpa sengaja suatu kejadian yang tidak diinginkan. Misalnya memergoki anak tanpa sengaja, membuang sampah sembarangan. Sebagai orang tua, saat memergokinya, sebaiknya kita tidak reaktif dan menyalahkan perbuatannya. Bersikaplah responsif. Tanyakan mengapa ia melakukan hal tersebut. Dengan demikian, kita bisa lebih bijak dalam merespon apa yang dilakukan anak berdasarkan fakta sesungguhnya yang ia sampaikan. Karena, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan anak kita melakukan hal tersebut: tidak adanya tempat sampah; belum tertanamnya kebiasaan pada anak; atau bisa jadi anak kita memang malas membuang sampah pada tempatnya

Setiap kemungkinan tersebut, akan menjadi landasan bagi kita untuk memberikan respon yang tepat kepada anak.

Antara Kepercayaan & Ketaatan

Sekarang ini, banyak orang tua yang senang mencari kesempatan untuk dapat memergoki anaknya. Dengan alasan ingin mengetahui fakta sesungguhnya tentang putranya: apakah ia selalu taat kepada perintah orang tua atau tidak. Dengan sikap orang tua tersebut,masalah tidak muncul jika kebetulan putranya selalu menaati perintah orang tua karena orang tua cenderung merespon ketaatan putranya tersebut dengan benar dan baik.

Namun, karena niat semula adalah memergoki anak, maka yang sering terjadi adalah orang tua justru menjumpai fakta sebaliknya yaitu anak yang tidak menaati perintah orang tuanya. Maka, reaksi berlebihan dari orang tua yang merasa selama ini dibohongi, justru memunculkan masalah lebih rumit.

Menurut Miftahul Jinan, penulis buku Smart Parents for Smart Students, ada beberapa akibat negatif yang mungkin muncul jika orang tua sering berniat untuk mengawasi anak-anaknya, yaitu:

  1. Anak merasa tidak dipercaya  oleh orang tua
  2. Perasaan diawasi memunculkan tantangan bagi anak untuk mencari kesempatan melakukan perbuatan tersebut tanpa diketahui orang tuanya.
  3. Perbuatan tersebut menjadi semakin melekat pada diri anak, dari pertama anak sekadar melakukan tanpa perasaan apa-apa, menjadi melakukannya sebagai tantangan

Miftahul Jinan justru menyarankan kepada orang tua untuk memergoki anak-anaknya saat melakukan kebaikan. Misalnya, memergoki dua putranya yang sering bertengkar, melakukan kegiatan bersama, kemudian meresponnya dengan pujian dan penghargaan atas kerja sama mereka. Dengan memergoki mereka saat melakukan perbuatan baik, maka sebenarnya banyak manfaat yang bisa diperoleh orang tua:  

  1. Perilaku yang kita inginkan semakin kuat menancap pada benak anak. Ibarat kertas putih yang ada nodanya, jika kita selalu berfokus pada keputihan kertas tersebut, maka akan semakin samarlah nodanya
  2. Meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri anak, karena secara spontan, mereka dijumpai orang tuanya saat melakukan perbuatan baik.
  3. Ketiga, anak yang kepergok memunculkan psikologi salah tingkah, bingung atau kaget. Saat seperti ini adalah saat yang baik untuk membangun kepercayaan diri dan memasukkan nilai pada diri anak
  4. Semakin sering kita dapat memergoki anak sedang melakukan perbuatan baik, kemudian melanjutkannya dengan pujian dan penghargaan yang tulus, maka, semakin tinggilah harga diri anak dan semakin menetaplah perbuatan-perbuatan baik tersebut pada diri putra-putri kita. *** (Sumber: Majalah Al Falah, Desember 2008)
Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam