bookmark bookmark
Sygma On September - 10 - 2013
Pentingnya Bertanya Pada Anak

Pentingnya Bertanya Pada Anak

Rasulullah memberikan panduan dalam mendidik anak agar mereka menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya. Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?”

Nabi menjawab,”Menerima usahanya walau kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya.” (HR. Ahmad)

Hadist tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa orangtua lah yang harus memahami anaknya. Orangtua lah yang harus membimbing anak dan membentuk mereka dengan penuh kasih sayang agar mereka menjadi anak yang berbakti kepada orangtuanya dengan penuh rasa cinta pula.

Dalam praktik sehari-hari, cara orangtua memahami anak-anaknya dapat terlihat pada saat berkomunikasi dengan anak. Dengan posisi sebagai orangtua, seringkali kita merasa sudah mengetahui maksud dari apa yang anak lakukan. Padahal kenyataannya, persepsi kita bisa berbeda dengan apa yang anak kita maksudkan.

Dua kisah berikut barangkali bisa menggambarkan tentang perbedaan persepsi antara orangtua dengan anak tentang suatu hal yang diucapkan dan dilakukannya, seperti yang disampaikan oleh Ida S. Widayanti, penulis buku Membentuk Karakter dengan Karakter.

 

Kisah 1:

“Papi, apa bedanya papi dengan sapi?” tanya Zamzam yang baru berusia tiga tahun pada ayahnya. “Ya, beda dong, Zam. Sapi itu kakinya empat, kalau papi kan kakinya hanya dua.” Mendengar penjelasan ayahnya, Zamzam hanya terdiam. “Maksud Zamzam bagaimana?” tanya ayahnya lagi melihat anaknya diam.

“Iya kalau Papi kan Pa-pi, nah kalau sapi kan Sa-pi,” ujar Zamzam. Ayah Zamzam kini mengerti anaknya yang sudah mulai senang memperhatikan huruf itu, menanyakan perbedaan kata papi dan sapi.

“Untung waktu itu aku tidak emosi sehingga tidak membentaknya, Masa Zamzam tidak tahu, Papi manusia, sedangkan sapi binatang! Ternyata aku salah,” ujar Papi Zamzam pada sahabatnya.

 

Kisah 2:

Ada seorang anak berusia 3,5 tahun melempar kunci mobil ayahnya ke selokan. Tentu saja anak itu dimarahi oleh ayah dan ibunya.

Ketika ditanya kemudian, anak itu berkata, “Kalau aku lempar daun atau kertas cepat sekali jalannya. Tapi, kalau batu yang kulempar tidak bergerak. Nah, aku ingin tahu kalau kunci mobil bagaimana? ujar si anak. Si Ibu tentu saja tidak mengira bahwa anak lelakinya sedang melakukan percobaan dan pengamatan. Ia menyesal telah memarahi anaknya.

Kisah-kisah tersebut menunjukkan betapa orangtua bisa salah persepsi terhadap anaknya. Untuk itu, yang perlu dilakukan untuk memahami maksud ucapan dan perilaku anak kita adalah bertanya. Bertanya itu penting, karena pikiran dan pengalaman hidup anak jelas berbeda dengan orang dewasa, sehingga mengajukan pertanyaan adalah cara yang paling tepat untuk memastikan maksud anak kita demi menghindari perbedaan persepsi yang terjadi dalam dialog antara orangtua dan anak.

Manfaat bertanya sangat banyak, diantaranya membangkitkan minat dan rasa ingin tahu, meningkatkan keterlibatan anak agar aktif dalam kegiatan belajar, menuntun proses berpikir siswa, dan memusatkan perhatian anak pada satu obyek atau hal.

Bertanya adalah hal sepele, tapi tidak mudah dilakukan. Orangtua seringkali lupa untuk bertanya maksud ucapan dan perilaku anak sehingga sering salah menilai.  Adakalanya orangtua bertanya hal-hal yang sama dan berulang setiap hari, seperti “sudah makan?”, sudah minum susu?”, “Sudah mengerjakan pe er?”. Dengan bertanya seperti itu, dianggapnya masalah anak sudah selesai. Padahal sesungguhnya pertanyaan yang sama dapat membuat anak bosan.

Menurut Ida S. Widayanti, ada empat jenis pertanyaan yang disarankan ahli pendidikan, yaitu pertanyaan fakta, konvergen, divergen dan evaluatif. Pertanyaan fakta membantu anak mengamati dan mengomunikasikan hasil pengamatan, seperti apa, dimana, kapan dan siapa. Pertanyaan konvergen adalah pertanyaan yang hanya mempunyai satu jawaban benar, namun memerlukan penjelasan, digunakan dalam memecahkan masalah. Pertanyaan divergen adalah pertanyaan yang mempunyai jawaban lebih dari satu dan berguna untuk mendorong kemampuan berpikir dan kreativitas sedangkan pertanyaan evaluatif adalah pertanyaan yang meminta anak dalam membuat dan mengambil keputusan.

Berdasarkan pemaparan tersebut, kita bisa menyesuaikan jenis pertanyaan yang akan diajukan kepada anak kita. Mari, Ayah-Bunda, biasakan untuk bertanya kepada anak kita, karena dengan bertanya, kita tidak saja bisa membantu meningkatkan kecerdasan anak, juga menghindari kesalahpahaman terhadap anak kita. 

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam