bookmark bookmark
Sygma On September - 10 - 2013
Tidak Cukup dengan Menyuruh

Tidak Cukup dengan Menyuruh

muhammadteladanku.com – Shalat adalah kewajiban utama yang harus dilaksanakan setiap muslim. Shalat menjadi amalan pertama yang akan dihisab nanti. Setiap orang tua berkewajiban untuk mendorong anaknya agar melaksanakan ibadah shalat. Mengenai kewajiban ini, Rasulullah saw bersabda, “Suruhlah anakmu mengerjakan shalat bila mereka telah berusia 7 tahun, dan pukullah bila meninggalkannya pada saat berusia 10 tahun dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur.” (HR Muslim).

Namun, tidaklah mudah menyuruh anak untuk melaksanakan shalat. Banyak orangtua merasa kesulitan meminta anaknya mengerjakan shalat lima waktu, terutama shalat subuh. Secara tidak sadar, kesulitan meminta anak mengerjakan shalat bisa membuat kita menggerutu kepada mereka.

Jika dicermati, tidak sepenuhnya anak disalahkan atas sulitnya kita menyuruh mereka shalat. Ada baiknya kita introspeksi diri, apakah kita sudah melaksanakan shalat secara rutin?

Setiap anak akan melihat orangtuanya sebagai contoh dalam melakukan sesuatu. Orangtua akan menjadi patokan bagi anak dalam melakukan sesuatu. Karena itu, sebelum menyuruh anak, ada baiknya kita sebagai orang tua terlebih dulu memahami pentingnya shalat dan melaksanakannya secara rutin, agar bisa menjadi role model bagi anak.

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua agar bisa menjadi contoh bagi anak dalam melaksanakan shalat, yang dikutip dari Suara Hidayatullah, Maret 2010, diantaranya:

– Pengetahuan

Bekali dulu diri kita dengan pengetahuan sebagai landasan kita mengerjakan suatu ibadah. Pahami dulu bahwa shalat menempati kedudukan tidak tertandingi oleh ibadah lain. Ia merupakan inti pokok ajaran Islam, yang jika hilang, maka hilang pula Islam secara keseluruhan.

– Disiplin

Tanamkan disiplin kepada anak untuk melaksanakan shalat secara teratur dan tidak boleh ditinggalkan, apapun kondisinya. Untuk menanamkan disiplin seperti itu, memang butuh proses. Salah satu proses yang bisa dilakukan adalah menjelaskan kepada anak bahwa shalat itu penting. Penjelasan bisa disampaikan sambil bermain, dengan dengan bercerita, atau cara apa saja yang menyenangkan bagi si anak, sesuai usia dan daya tangkapnya. Bantu mereka disiplin terhadap waktu shalat dengan mengontrolnya. Jangan pernah bosan mengingatkannya untuk shalat.

–  Reward and Punishment

Ketika anak bisa mengerjakan shalat, beri hadiah berupa pelukan, pujian, belaian, atau apa saja yang bentuknya nonmateri. Hadiah merupakan bentuk perhatian dan apresiasi kita atas usahanya. adalah bentuk perhatian dan apresiasi kita atas usahanya. Atau, saat anak bisa mengejakan shalat tanpa disuruh, beri pujian misalnya dengan kata-kata, “Wah, ini dia anak ibu yang rajin shalatnya yang dirindui penghuni surga.”

Punishment berkaitan dengan peraturan. Buatlah aturan dengan melibatkan anak, sehingga anak juga belajar berkomitmen atas apa yang ia buat. Aturan harus jelas, jangan terlalu keras. Jika aturan berubah-ubah, maka akan kehilangan kewibawaannya. Kuncinya adalah konsisten dan kompak antara ayah dan ibu

– Teladan

Anak akan lebih mudah menuruti permintaan orangtuanya, jika mereka melihat orangtuanya mencontohkan apa yang mereka perintahkan. Dengan demikian, orang tua harus bisa menjadi role model bagi anak. Keteladanan akan memacu anak untuk berbuat hal yang diperintahkan tanpa merasa diperlakukan tidak adil, karena apa yang diminta sudah dilakukan oleh orangtuanya dengan baik.

– Sabar

Kesabaran adalah modal paling utama dalam pengasuhan anak. Orangtua seringkali tidak sabar ingin cepat melihat hasil atas apa yang baru saja ia ajarkan kepada anak-anaknya. Hari ini disampaikan, besok anak langsung bisa mengerjakannya dengan benar. Perlu kita ingat, proses penanaman disiplin membutuhkan waktu. Apalagi anak-anak kita yang masih kecil dan sedang dalam proses belajar. Orangtua juga perlu bersabar dalam mengajarkannya. Bersabar atas kesulitan-kesulitan yang ada, misalnya anak yang tidak kunjung paham atas apa yang kita ajarkan. Lebih banyak lupanya daripada ingatnya. Jadi, perkuat kesabaran kita, para orangtua, dalam mengajarkannya dan dalam menunggu hasilnya kelak.

Semoga artikel Tidak Cukup dengan Menyuruh ini bermanfaat.

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam