bookmark bookmark
Sygma On July - 30 - 2015

Kasur yang Terlalu Empuk - CopyKasur yang Terlalu Empuk

Suatu hari, Bunda Hafshah menceritakan bahwa alas tempat tidur Rasullah adalah dua lapis buluh. Pada suatu hari, tanpa sepengetahuan beliau, kami jadikan empat lapis. Keesokan harinya. Rasulullah memperingatkan kami agar perbuatan itu jangan sampai terulang lagi, “Biarkanlah tempat tidurku tetap dengan dua lapis saja. Akibat empuknya, kasur itu menghalangi shalatku semalam.”

 

muhammadtelandanku.com – Kerendahan Hati dan Kemudahan Rasulullah Saw – Ayah Bunda, ditengah zaman yang serba canggih dan instan seperti sekarang ini, ada baiknya kita membekali anak-anak kita dengan bacaan dan pengetahuan yang dapat menjadi benteng bagi anak kita. Bekali pengetahuan anak-anak kita dengan kisah teladan sepanjang masa, yaitu Nabi Muhammad Saw.

Rasulullah SAW adalah manusia terhormat yang justru tidak ingin diperlakukan secara berbeda dari orang lain. Dalam sebuah perjalanan jarak jauh bersama para sahabat, Rasulullah SAW bangkit mencari kayu bakar. Ketika itu, mereka sedang beristirahat. Para sahabat berusaha mencegah dan ingin beliau tetap beristirahat. Namun, Rasulullah SAW tidak mau dicegah karena Allah SWT membenci orang yang menganggap dirinya lebih tinggi daripada teman-temannya.

Pernah seorang Arab Badui berdiri di hadapan beliau dengan tubuh gemetar karena takut. Namun, beliau menenangkan orang itu dan mengatakan bahwa beliau hanyalah anak dari seorang perempuan Quraisy yang memakan dendeng.

Pada saat lain, Rasulullah SAW mendatangi sekelompok sahabat sambil bertopang pada sebatang tongkat. Serentak para sahabat berdiri hendak memberi hormat. Namun, beliau bersabda, “Janganlah kalian berdiri seperti orang-orang asing itu berdiri ketika sebagian memberi hormat kepada sebagian yang lain.”

Beliau juga tidak menyukai tangannya dicium sebagai bentuk hormat karena itu juga menyerupai budaya orang asing. Itu pun beliau larang. Rasulullah SAW juga tidak suka segala macam gelar. Ketika menerima delegasi dari Bani Amir, mereka berkata kepada beliau, “Engkau Tuan kami.”

Maka jawab Rasulullah SAW, “Yang dipertuan adalah Allah.”

Mereka berkata pula, “Engkaulah orang yang paling mulia di antara kami dan yang terbesar kekuasaannya.”

Beliau menjawab, “Berbicaralah sesukamu, tapi jangan sekali-kali kamu mau dipermainkan setan.”

Abu Bakar bercerita, “Ada seorang laki-laki menyanjung laki-laki yang lain di sisi Rasulullah SAW. Maka, beliau bersabda, “Celaka engkau! Telah kau patahkan leher sahabatmu!”

Maksud Rasulullah SAW adalah jika kita memuji-muji seseorang, besar kemungkinan orang yang kita puji akan takjub kepada dirinya sendiri dan menjadi sombong. Itulah yang membinasakan dia seolah-olah seperti dipatahkan lehernya.

 

Dikutip dari buku Muhammad Teladanku jilid 12.

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam