bookmark bookmark
Sygma On August - 7 - 2015

Tidak Mau Dibedakan Tidak Mau Dibedakan

Rasulullah SAW tidak mau dibedakan dari para sahabatnya yang lain. Beliau makan bersama-sama para pemuda. Beliau duduk bersama fakir miskin. Beliau tidak suka ada yang mengiringinya dari belakang atau mengawalnya jika berjalan karena tidak ada yang ditakutinya selain Allah. Kepada Allahlah beliau berserah diri.

 

muhammadteladanku.com – Kerendahan Hati dan Kemudahan Rasulullah Saw (2) – Ayah Bunda, kisah teladan Nabi Muhammad Saw tidak akan pernah habis. Minggu lalu telah dibahas tentang sikap Rasulullah Saw yang tidak mau dibedakan dengan sahabat yang lain. Beliau tidak ingin dipuja-puji atau diperlakukan seperti seorang raja, karena jika kita memuja-muji seseorang, besar kemungkinan orang yang kita puji akan takjub kepada dirinya sendiri dan menjadi sombong. Hal tersebut yang dihindari oleh Rasulullah Saw.

Masih banyak kisah tentang kerendahan hati dan kemudahan Rasulullah Saw yang baik untuk kita ceritakan dan kenalkan kepada anak-anak kita agar menjadi pribadi yang memiliki sikap teladan seperti Nabi Muhammad Saw.

Rasulullah SAW adalah orang yang penuh dengan kerendahan hati, sempurna budi pekertinya. Beliau selalu mulai mengucapkan salam kepada orang lain dan menaruh perhatian sepenuhnya kepada orang yang mengajaknya bicara, bahkan walau yang sedang diajak bicaranya adalah anak kecil. Apabila berjabat tangan, Rasulullah SAW adalah orang yang paling akhir menarik tangannya. Sedangkan jika bersedekah, beliau sendirilah yang menyerahkan ke tangan si miskin.

Rasulullah SAW begitu rendah hati dan amat santun kepada orang lain. Jika sedang menerima tamu, beliau baru duduk setelah semua tempat duduk telah ditempati oleh para tamunya. Beliau tidak pernah menghindari pekerjaan yang harus beliau lakukan untuk memenuhi kebutuhan beliau sendiri atau memenuhi kebutuhan sahabat dan para tetangganya. Beliau sering terlihat membawa barang dagangan ke pasar. Jika ada orang yang hendak membantu, beliau menolak dengan halus, “ Sayalah yang lebih berhak membawanya.”

Rasulullah SAW sama sekali tidak merasa enggan melakukan pekerjaan kasar seperti menggali parit dalam Perang Khandaq. Padahal, saat itu Rasulullah SAW adalah panglima perang. Seorang panglima biasanya tidak melakukan pekerjaan seorang prajurit.

Pakaian beliau sama dengan pakaian orang-orang lain di sekitarnya dan itu tidak pernah berubah walaupun kemudian beliau sudah memerintah seluruh Jazirah Arab. Tempat tinggal beliau adalah kamar-kamar sederhana yang dibangun dari pelepah kurma yang dicampur tanah dan ditutup dengan kulit dari kain hitam dari bulu binatang.

Pergaulan antara Rasulullah SAW dan para sahabatnya berlangsung dalam suasana santun, penuh ceria, dan kepatuhan yang sempurna. Beliau tidak sombong, tetapi juga tidak suka jika ada orang yang bersikap kurang ajar. Sering kali beliau menerangkan kepada para sahabat tentang bagaimana mereka semestinya bertindak-tanduk dan bicara di hadapan beliau.

Semua ini tidak mengurangi kewibawaan Rasulullah SAW sebagai seorang pemimpin bahkan orang berkata tentang beliau, “Semua orang yang melihatnya untuk pertama kali akan merasa hormat dan orang yang telah bergaul dengannya akan mencintainya.

Dikutip dari buku Muhammad Teladanku jilid 12.

Categories: Artikel

Leave a Reply

Protected by WP Anti Spam